التمسك التوحيد,تصويب العقيدة,الستصل الشرك و بدعة

Tegak Tauhid, Lurus Aqidah, Berantas Syirik dan Bid'ah

Jual Belilah dengan Harta yang Halal

pada Maret 22, 2010

FJB (Forum Jual Beli) yaitu sebuah forum yang dikelola seorang atau beberapa orang dalam bentuk organisasi dimana mereka berfungsi sebagai orang-orang yang mengatur jalannya proses jual beli para anggotanya, forum ini sudah merambah hingga ke dunia maya (internet, pen). Salah satunya adalah Kaskus, sebuah forum jual beli online yang merupakan forum terbesar di Indonesia. Banyak sekali dari anggotanya yang menjual barang baru ataupun bekas seperti sepatu, tas, baju, kaos, spare part kendaraan, komputer dan lain sebagainya hingga barang-barang yang haram dalam kacamata syari’at seperti alat musik (gitar, piano, drum, dan lain-lain).

Untuk itu demi meraih ridho Allah سبحانه وتعالى agar kita tidak terjerumus kepada hal-hal yang haram dan tersingkap semua keraguan, maka perlu dijelaskan mengenai definisi dan tujuan jual beli bagi pelakunya.

Definisi Jual Beli:

“Proses tukar menukar harta”. Yang dimaksud dengan harta ialah setiap benda yang manfaatnya halal walau tanpa ada keperluan,[1] sehingga termasuk dalamnya: emas, perak, gandum, garam, beras, kendaraan, bejana, buku, property, dan lain-lain yang memiliki kemanfaatan, dan kemanfaatannya tersebut dihalalkan dalam syari’at.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa setiap benda yang tidak ada manfaatnya misalnya serangga, atau pemanfaatannya diharamkan, misalnya peralatan musik, babi, khamr, tidak dapat dikategorikan sebagai harta. Bahkan wajib untuk dimusnahkan, sebagaimana wujud dari inkaratul munkar.

عَنْ أَ نَسِ بْنِ مَا لِكٍ أنَّ أبَا طَلْحَةَ سأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ علَيْهِ و سَلَّمَ عَنْ أَيْتَا مٍ وَرِثُوا خَمْرًا؟ قَا لَ: أَهْرِ قْهَا. قَالَ: أَفَلاَ أَجْعَلُهَا خَلاَّ. قَالَ: لاَ. رواه ابوداود و الترمذي و حسنه الأ لباني

Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Ia menuturkan, Abu Thalhah bertanya kepada Nabi صلى الله عليه و سلم tentang anak-anak yatim yang mendapat warisan khamr? Beliau bersabda, “Tumpahkanlah (buanglah).” Abu Thalhah kembali bertanya, “apa tidak lebih baik bila saya membuatnya menjadi cuka?” Beliau menjawab “Tidak.” (HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan dishohihkan oleh Al-Albani)

Tujuan Jual Beli:

Menukar harta dengan maksud mencari keuntungan bagi penjual, dan memiliki harta penjual yang telah dibeli bagi pembeli.

Pembahasan:

Maka dengan definisi dan tujuan Jual Beli di atas maka haram bagi seorang muslim mendzolimi saudaranya (muslim) dengan sesuatu yang menjadikan saudaranya dilaknat oleh Allah سبحانه وتعالى:

عن أبي ذر الغفاري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه عزوجل أنه قال : – يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي , وجعلته بينكم محرماً فلا تظالموا

Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan (berlaku) zhalim atas diri-Ku dan Aku menjadikannya di antaramu haram, maka janganlah kamu saling menzhalimi… “ (HR. Muslim no. 2577)

Kalimat “sesungguhnya Aku mengharamkan (berlaku) zhalim atas diri-Ku dan Aku menjadikannya di antaramu haram”, sebagian ulama mengatakan maksudnya ialah Allah tidak patut dan tidak akan berbuat zhalim seperti tersebut pada firman-Nya :

وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا
“ Tidak patut bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil anak ”. (QS. Maryam : 92)

Jadi, zhalim bagi Allah adalah sesuatu yang mustahil. Sebagian lain berpendapat , maksudnya ialah seseorang tidak boleh meminta kepada Allah untuk menghukum musuhnya atas namanya kecuali dalam hal yang benar, seperti tersebut dalam firman-Nya dalam Hadits di atas : “Sungguh Aku mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zhalim”. Jadi, Allah tidak akan berbuat zhalim kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, bagaimana orang bisa mempunyai anggapan bahwa Allah berbuat zhalim kepada hamba-hamba-Nya untuk kepentingan tertentu?

Begitu pula kalimat “janganlah kamu saling menzhalimi” maksudnya bahwa janganlah orang yang dizhalimi membalas orang yang menzhaliminya. [2]

Cukup dengan penjelasan dan nash di atas, maka dalam hal ini jika seseorang ingin menghilangkan benda-benda yang haram dari dirinya dengan memberikan atau menjual kepada saudaranya (muslim) sama saja menjadikan saudaranya terlaknat oleh Allah عزوجل dikarenakan benda yang haramnya kini ada di tangan saudaranya.

Maka seperti halnya menjual alat musik karena ingin menghilangkannya karena ketakutan kepada Allah agar tidak kembali menggunakannya dengan menjual ke saudara muslim adalah haram hukumnya.

Pertanyaan seorang mutholibun ilmi (penuntut ilmu) kepada seorang Ustadz:

“Seseorang telah bertaubat dari musik, namun masih memiliki beberapa alat musik yaitu gitar yang total harganya hingga 70 juta rupiah, apakah boleh dia menjual gitarnya?”

Jawaban:

“Hancurkan gitarnya, atau jika ingin menjual, jual kepada orang kafir dan gunakan uangnya untuk hal-hal umum, seperti membangun jalan, jembatan.”

Fenomena-fenomena dakwah dari kehidupan Salafush Shalih:

“Adalah seorang pemuda yang bernama Dzaadzan seorang peminum khamr (minuman keras), dan ia penabuh gendang, lalu Allah memberinya rezki berupa taubat ditangan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu maka menjadilah Dzaadzan termasuk orang-orang yang terbaik dari kalangan tabi’in, dan salah seorang ulama yang terkemuka, dan termasuk orang-orang yang masyhur dari kalangan hamba Allah ahli zuhud” [Lihat biografinya dalam Hilyatul Aulia 4/199, dan Bidayah wan Nihayah 9/74 dan Siyar ‘Alamun Nubala 4/280]

Inilah kisah taubatnya, sebagaimana Dzaadzan meriwayatkannya sendiri, ia berkata :

“Saya adalah seorang pemuda yang bersuara merdu, pandai memukul gendang, ketika saya bersama teman-teman sedang minum minuman keras, lewatlah Ibnu Mas’ud, maka ia pun memasuki (tempat kami), kemudian ia pukul tempat (yang berisikan minuman keras) dan membuangnya, dan ia pecahkan gendang (kami), lalu ia (Ibnu Mas’ud0 berkata : “Kalaulah yang terdengar dari suaramu yang bagus adalah Al-Qur’an maka engkau adalah engaku… engkau”.

Setelah itu pergilah Ibnu Mas’ud. Maka aku bertanya kepada temanku : “Siapa orang ini ?” mereka berkata : “Ini adalah Abdullah bin Mas’ud (sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.

Maka dengan kejadian itu (dimasukkan) dalam jiwaku perasaan taubat. Setelah itu aku berusaha mengejar Abdullah bin Mas’ud sambil menangis, (setelah mendapatinya) aku tarik baju Abdullah bin Mas’ud.

Maka Ibnu Mas’ud pun menghadap kearahku dan memelukku menangis. Dan ia berkata : “Marhaban (selamat datang) orang yang Allah mencintainya”. Duduklah! lalu Ibnu Mas’ud pun masuk dan menghidangkan kurma untukku [Siyar ‘Alamun Nubala 4/28][3]

Sumber:

  1. Sifat Perniagaan Nabi, Penulis: Muhammad Arifin bin Badri, MA, Pustaka Darul Ilmi
  2. Berbagai sumber online seperti www.almanhaj.or.id, www.salafy.or.id, dan lainnya.

[1] Dalam kitab Asy-Syarhul Mumti’ 8/107-108

[2] Arba’in An-Nawawi, Hadist ke 24

[3] http://www.almanhaj.or.id/content/1944/slash/0


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: