التمسك التوحيد,تصويب العقيدة,الستصل الشرك و بدعة

Tegak Tauhid, Lurus Aqidah, Berantas Syirik dan Bid'ah

Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi

pada Januari 25, 2010

بسم الله الرحمن الرحيم

Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi
-shallallahu alaihi wasallam-

Cover depan

Sinopsis:

Perayaan Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam bisa dikatakan sebagai ritual tahunan yang telah dilaksanakan turun temurun, generasi ke generasi di hampir seluruh negeri kaum muslimin. Dia dijadikan lambang oleh kebanyakan mereka dari kecintaan terhadap Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi, pernahkah terbetik di dalam hati kita untuk mengadakan studi dan penelitian tentang asal muasal munculnya perayaan ini? Pernahkah kita mempertimbangkan ucapan sebagian orang yang menyatakan bid’ahnya maulid? Ataukah kita serta merta langsung menyalahkan ucapan tersebut tanpa melihat dalil-dalil dari pihak yang pro dan kontra terhadapnya? Tentunya sikap yang kedua ini bukanlah sikap yang adil bahkan merupakan kecurangan, baik dari sisi akal, terlebih lagi dari sisi syariat.

Buku yang insya Allah akan segera terbit ini, diharapkan bisa menjadi penuntun bagi setiap orang yang menginginkan kebenaran dalam masalah hukum perayaan maulid. Insya Allah akan menjadi bahan studi bagi setiap orang yang mau bersikap adil dan obyektif dalam menilai perayaan ini. Akan menjadi hujjah yang kuat bagi yang kontra terhadapnya dan akan menjadi penentang yang tegas bagi yang pro terhadapnya.

Isi buku secara umum terbagi menjadi dua bahagian besar, yaitu: Pendahuluan dan Inti Pembahasan. Dalam Pendahuluan dibahas beberapa dasar masalah penting, yang sebenarnya setiap bab dalam pendahuluan ini merupakan bantahan bagi dalil-dalil pihak yang pro kepada perayaan maulid. Sebut saja di antaranya: Taklid kepada mayoritas umat Islam, adanya bid’ah hasanah, maulid merupakan sarana untuk bershalawat dan mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan seterusnya. Adapun inti pembahasan, maka disini merupakan tempat beradu argumen antara pihak yang pro dan yang kontra, serta tempat untuk memisahkan antara yang hak dan yang batil.

Kesimpulan dari bab-bab dalam inti pembahasan ini antara lain: Maulid pertama kali dirayakan oleh kelompok yang lebih kafir daripada Yahudi dan Nashara, membantah secara lengkap dan meluas 22 dalil pihak yang pro kepadanya serta 24 kemungkaran besar yang terjadi di tengah-tengah perayaan maulid, dan juga tentu saja nukilan dari sekitar 50 ulama salaf baik yang dahulu maupun yang belakangan yang memvonis perayaan ini sebagai amalan yang melenceng dari tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Keterangan Buku:

Judul: Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam

Penulis: Abu Muawiah Hammad bin Amir Al-Makassari

Editor: Ust. Abu Faizah Abdul Qadir Lc

Setting & Lay Out: Abu Aliyah

Desain Sampul: Abu Yahya At-Tambuni

Penerbit: Al-Maktabah Al-Atsariyyah

Cetakan: I, Jumad Ats-Tsani 1418 H/Agustus 2007

II, Shafar 1431 H/Januari 2010

Ukuran: 14 x 20 cm

Tebal: 244 Halaman

Harga: Rp. 40.000,-

Daftar Isi:

Bagian Pertama: Pendahuluan yang terdiri dari delapan bab sebagai berikut:

1. Bab Pertama: Wajibnya Mengembalikan Semua Perkara yang Diperselisihkan Kepada Al-Kitab dan As-Sunnah Sesuai dengan Pemahaman Para Ulama As-Salaf

a. Dalil Naqli

b. Dalil Ijma

c. Dalil Akal

d. Syubhat dan Bantahannya.

2. Bab Kedua: Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah

a. Kesempurnaan Islam

b. Syarh Definisi Bid’ah

c. Dalil-dalil Tercelanya Bid’ah serta Akibat Buruk yang Akan Menimpa Pelakunya

d. Perkataan Para Ulama Salaf dalam Mencela Bid’ah

3. Bab Ketiga: Tidak Ada Bid’ah Hasanah dalam Islam

a. Dalil-dalil Tercelanya Semua Bentuk Bid’ah

b. Tujuh Syubhat Para Penyeru Bid’ah Hasanah serta Bantahannya

4. Bab Keempat: Syarat Diterimanya Amalan

a. Syarat Pertama: Pemurnian Keikhlasan

b. Syarat Kedua: Pemurnian Ittiba`

5. Bab Kelima: Terlarangnya Taqlid Dalam Agama

a. Definisi Taqlid

b. Pembagian dan Hukum Taqlid

c. Perkataan Imam Empat dalam Melarang Taqlid

6. Bab Keenam: Haramnya Tasyabbuh Kepada Orang-Orang Kafir

a. Definisi dan Bentuk-bentuk Tasyabbuh.

b. Hukum Tasyabbuh

c. Hikmah Diharamkannya Tasyabbuh

d. Dalil-dalil Umum Pengharaman Tasyabbuh

e. Dalil-dalil Khusus Pengharaman Tasyabbuh

7. Bab Ketujuh: Hakikat Kecintaan Kepada Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-

a. Hakikat Kecintaan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-

b. Tanda-tanda Kecintaan kepada Beliau.

c. Beberapa Kisah Sahabat Seputar Kecintaan Mereka kepada Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-

8. Bab Kedelapan: Tuntunan Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- Dalam Bersholawat

a. Tafsir Ayat Shalawat (Al-Ahzab: 56)

b. Keutamaan Shalawat dan Taslim.

c. Kaifiat Shalawat dan Taslim

d. Waktu dan Tempat Disyariatkan Membaca Shalawat dan Taslim.

e. Beberapa Contoh Shalawat Bid’ah (Badar, Nariyah, Qashidah Al-Burdah, Maulidul Barzanji, dan dua shalawat lainnya)

Bagian Kedua : Inti Pembahasan, yang terdiri dari enam bab, yaitu:

9. Bab Kesembilan: Definisi dan Sejarah Munculnya Perayaan Maulid

a. Definisi Maulid

b. Perselisihan Ulama Tentang Hari Lahirnya Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-

c. Yang Pertama Kali Merayakannya.

d. Sekilas tentang Al-Bathiniyah, Sebagai Pencetus Perayaan Maulid.

10. Bab Kesepuluh: Penetapan bahwa Orang-Orang yang Merayakan Maulid Menganggap Perayaaan Itu Bagian dari Agama

11. Bab Kesebelas: Syubhat dan Argumen yang Dijadikan Sandaran oleh Orang-Orang yang Membolehkan Maulid Beserta Bantahannya

22 dalil yang sering dipakai untuk membolehkan perayaan maulid lengkap dengan bantahannya satu persatu.

12. Bab Keduabelas: Kemungkaran-Kemungkaran dalam Perayaan Maulid

a. Bentuk-bentuk Perayaan Maulid

b. 18 Dosa Besar dalam Perayaan Maulid -dari sisi aqidah dan yang lainnya- serta bantahannya.

13. Bab Ketiga belas: Perkataan dan Fatwa Para Ulama Tentang Bid’ahnya Perayaan Maulid

a. Perkataan 53 Ulama Salaf (Terdahulu dan Zaman ini) Akan Bid’ahnya Perayaan Maulid.

b. Apakah Para Ulama Mengkafirkan Para Pelaku Maulid?

14. Bab Keempat belas: Kumpulan Fatwa Seputar Perayaan Maulid

Fatwa Para Ulama Seputar Beberapa Kejadian Dalam Perayaan Maulid (Hukum menghadiri, menyumbang uang, menerima dan memakan makanannya, hukum orang yang membelanya, sikap terhadap perayaannya, dan selainnya)

Bagian Ketiga : Penutup

Sirkulasi dan Peragenan:

Bagi yang berminat membeli (on line) atau menjadi agen penjualan buku ini, silakan menghubungi:

HP: 0813 5544 1994 atau (021) 937 55 664

Email: abumuawiah@yahoo.com atau atsariyyah_06@yahoo.co.id atau attambuny@gmail.com

YM: abumuawiah@yahoo.com (jika online) dan jika tidak online maka silakan meninggalkan pesan offline.

Atau melalui kolom komentar pada artikel ini.

disalin dari http://al-atsariyyah.com/?p=1718&cpage=1#comment-805


22 responses to “Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi

  1. anak warnet mengatakan:

    bid’ah lagi bid’ah lagi…. sesat lagi sesat lagi…serem amat nih ajaran. Dimana toleransinya kalo begini? Padahal saya menjadi seorang Muallaf karena secara ga sengaja saya melihat peringatan Maulid yang waktu itu diisi dengan banyak kegiatan positif seperti santunan yatim dan ceramah-2 yang menyejukkan….

    • Abu Tanisha mengatakan:

      kepada anak warnet:

      Ahlan wa sahlan, semoga Allah memberikan hidayah dan ketetapan iman kepada antum sebagai muallaf.

      Mengenai bid’ah lagi sesat lagi, memang tidak asing di telinga kita jika kita sudah mempelajari Islam lebih dalam, coba antum pelajari kitab Tauhid karya Muhammad At-Tamimi, tentunya dengan bimbingan Ustadz yang mampu berbahasa arab, aqidahnya ahlusunnah. Jika antum cermati banyak kaidah-kaidah yang bisa kita petik dalam agama Islam ini. Maka Islam ini adalah agama wahyu, bukan agama ra’yu (akal), wahyu dari Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, Ibadah itu menurut kehendak Allah, bagaimana maunya Allah, dan semua sudah dijelaskan oleh Rasulullah dan disusun dalam hadist yang shahih (kuat) dengan perawi (periwayat hadist) yang tsiqoh (terpercaya).

      Memang semakin jauh kita dari jaman Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, semakin jauh pula pemahaman kita terhadap Islam, berbagai orang beranggapan sendiri dalam beragama, yang penting sholat, yang penting zakat, yang penting puasa, namun kita tidak pernah memilah antara ajaran yang asli dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam atau kadzabun (para pendusta), bahkan suatu hadist yang salah kalimatnya saja, walau isinya maksud dari isinya sama itupun bisa menjadi hadist itu dhoif (lemah).

      Untuk itu Islam tidak seperti agama yang lainnya, keunggulan Islam adalah adanya mempunyai isnad (rantai/hubungan), sehingga jika ada perkataan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bisa diketahui apakah perawi ini mendengar dari perawi sebelumnya atau tidak, langsung mendengar dari Rasulullah atau tidak, apakah perawinya adalah orang yang tsiqoh atau bukan, dan banyak lagi, antum mungkin pernah dengar sebuah hadist yang diawali dengan “dari fulan berkata bahwa dia mendengar dari bapaknya dari fulan dari fulan, dari Rasulullah, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berkata ….”.

      Jadi sebuah ilmu, sebuah wacana dalam Islam tidak boleh disembunyikan, jika memang itu tidak ada ajarannya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, maka itu sesat, karena sama saja menganggap bahwa Rasulullah tidak selesai membawakan ajaran Islam dan itu bertentangan dengan ayat dari surah Al-Ma’idah 3 yang berbunyi “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…

      Terakhir, jika antum mendengar bahwa Islam membid’ahkan ini itu, menyesatkan ini itu, maka pahami dulu masalahnya, jangan langsung men-judge bahwa Islam gini-gitu, ana dari lahir Islam, dan sungguh kaget pula awalnya jika apa yang ana kerjakan salah, maka ana menuntut ilmu kepada para ustadz yang lurus aqidahnya, karena yang ana rindukan syurga, bukan kesenangan dunia aja, yang penting ana sholat, yang penting ini itu, tanpa menelaah lagi ajaran Islam sebenarnya.

  2. gondrong mengatakan:

    berikut para Imam dan Muhaddits yg membuat riwayat maulid :

    1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
    Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

    2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
    Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

    3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
    Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.

    4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
    Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

    5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
    Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab

    6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
    berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.

    7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
    dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

    8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
    dengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

    9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
    dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

    10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi
    dg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

    11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
    dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

    12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
    yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”

    13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy
    dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”

    14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
    telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

    15. Imam assyakhawiy
    dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

    16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
    dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

    17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’
    dg maulidnya addiba’i

    18. Imam ibn hajar al haitsami
    dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

    19. Imam Ibrahim Baajuri
    mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

    20. Al Allamah Ali Al Qari’
    dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

    21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji
    dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

    23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
    dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

    24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
    dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

    25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
    dg maulid al maulid mustofa adnaani

    26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
    dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

    27. Syihabuddin Al Halwani
    dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

    28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
    dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

    29. Asyeikh Ali Attanthowiy
    dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

    30. As syeikh Muhammad Al maghribi
    dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

    Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid,

    selanjutnya…..

    tak ada satu pun dr kita para penentang maulid ke ilmuannya…,

    ketaqwaannya,kezuhudannya,keikhlasan berjuang tuk agama seperti para imam diatas…

    tak satu pun dr kita penentang maulid muhaddist…

    tak satu pun dr kita penentang maulid tahu mengenai hukum agama lebihi para imam di atas…

    jd jangan menganggap kita lebih tahu dr pada mereka…

    tak satu pun dr kita penentang maulid hafalan hadist nya melebihi para imam di atas….

    mereka semua bersanad bukan penukil hadist dr kitab terjemahan…

    zaman mereka pun lebih dekat dengan rasul….

    buku2 karya mereka pun di pakai,di baca,di jadikan acuan para penentang maulid…

    jadi kalau ada di akhir zaman ini para penentang maulid….

    telaah kembali apa ilmu agama kita telah sedalam mereka para ulama salaf terdahulu?

    apakah kita setingkat muhaddist? yang hafal ratusan ribu hadist dan bersanad?

    apakah kita lebih baik dari mereka para imam dan muhaddist?

    apakah kita menganggap, kita ini lebih lebat keilmuannya dlm femahaman ttg agama di banding mereka??

    jauh…sungguh jauh…telaah kembali…lah

    imu kita,pemahaman,ketaqwaan,tetaatan,kekhusuan dlm ibadah tak ada apa2 nya di banding mereka…..

    • Abu Tanisha mengatakan:

      1. Dalam tafsir Ibnu Katsir lau kaana khairan lasabakuuna ilaih artinya seandainya perbuatan itu baik, pasti mereka telah melakukannya
      2. Imam Malik berkata كل قولٍ يمكن ان تقبل او ترض ما عدا قولٍ إلا من صاحب هذا (kullu qowlin yumkinu an tuqbala aw taroddu ma ‘ada illa min shoohibu haadza) artinya semua perkataan bisa diterima atau ditolak kecuali perkataan pemilik qubur ini (Rasulullah)..

  3. gondrong mengatakan:

    Assalam…

    @Abu Tanisha say:
    ” Dalam tafsir Ibnu Katsir lau kaana khairan lasabakuuna ilaih artinya seandainya perbuatan itu baik, pasti mereka telah melakukannya”

    Alhamdulillah…

    Imam al Hafidh Ibn Katsir yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir” mengatakan seperti itu,

    Tentang maulid pendapat ulama besar dunia lainnya…..

    Syeikh Ma’ruf Al Karkhi rahimahullah sangat memperhatikan majelis Maulid Nabi. Dalam salah satu nasihatnya, beliau radhiyallahu anhu berkata :

    “Barang siapa mempersiapkan makanan, mengumpulkan teman teman, menyalakan lampu, mengenakan pakaian baru , memakan parfum dan menghias dirinya untuk membaca dan mengagungkan mauled rasul, maka kelak di hari kiamat Allah akan mengumpulkan bersama para Nabi, orang orang yang berada dalam barisan pertama. Dia kan ditempatkan di Illiyyin yang tertinggi.

    (Abu Bakar Bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Ianathuth Thalibin Darul Fikr, juz3, hal 255)

    Syeikh Sirri As-Saqthi berkata :

    “Barangsiapa yang mendatangi tempat pembacaan riwayat Maulid Nabi Muhammad SAW, maka dia diberi sebidang taman disurga, karena sesungguhnya tidak ada orang yang berjalan mendatangi tempat tersebut, kecuali orang-orang itu mencintai Nabi Muhammad SAW. dan
    Nabi Muhammad SAW telah bersabda: ” Barang siapa yang mencintaiku, maka dia akan bersamaku di syurga.”

    [Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani, Madaarijus-su’uud , hal 15-16]

    Al-Imam Asy-Syafi’i berkata:

    “Orang yang mengumpulkan saudaranya di saat maulid Nabi SAW, lalu menghidangkan untuk mereka makanan, serta berbuat ihsan, maka Allah akan bangkitkan dirinya di hari kiamat bersama para shiddiqin, syuhada’, shalihin dan berada dalam surga An-Na’im

    [Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani, Madaarijus-su’uud , hal 15-16]

    Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849 H – 911 H)

    menjawab bahwa perayaan Maulid Nabi SAW boleh dilakukan. Sebagaimana dituturkan dalam Al-Hawi lil Fatawi:

    “Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: Menurut saya bahwa asal
    perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmnti bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang
    dilakukan, tidak lebih.
    Semua itu termasuk bid’ah al-hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka dta dan kegembiraan atas kelahiran Nnbi Muhammad SAW yang mulia”. (Al-Hawi lil Fatawi, juz I, hal 251-252)

    Syech Ibnu Taymiah:

    “Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAWakan diberi pahala. Begitulah yang dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana juga di temukan di kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS. Dalam Islam juga dilakukan oleh kaum muslimin sebagai rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan”.

    (Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 399)

    wassalam…wr..wb…

    • Abu Tanisha mengatakan:

      Semua hujjah antum tertolak dengan point 2. Imam Malik berkata كل قولٍ يمكن ان تقبل او ترض ما عدا قولٍ إلا من صاحب هذا (kullu qowlin yumkinu an tuqbala aw taroddu ma ‘ada illa min shoohibu haadza) artinya semua perkataan bisa diterima atau ditolak kecuali perkataan pemilik qubur ini (Rasulullah)..

      jadi apakah dosa bagi seseorang yang tidak melaksanakan maulid nabi?? apa dasar yang menjadikannya dosa?? apakah antum paham sejarah maulid nabi?? siapa yang membawakan??

  4. gondrong mengatakan:

    Abu Tanisa say:

    Semua hujjah antum tertolak dengan point 2. Imam Malik berkata ?? ???? ???? ?? ???? ?? ??? ?? ??? ???? ??? ?? ???? ??? (kullu qowlin yumkinu an tuqbala aw taroddu ma ‘ada illa min shoohibu haadza) artinya semua perkataan bisa diterima atau ditolak kecuali perkataan pemilik qubur ini (Rasulullah)..

    perkataan Rosulullah tak kan tertolak untuk semua, beliau (imam malik) benar saudaraku …
    dan semua orang muslim sedunia pun tahu akan hal ini saudaraku,

    makna tsb berlaku umum saudara ku…
    dlm artian perkataan tsb dpt di keluarkan dlm perbincangan apa saja tentang agama,jika terjadi perselisihan pendapat,tak terkecuali ttg rukun wudhu,senggolan dgn wanita,dll. dpt saja di kemukakan spt di atas,tapi kita sedang bicara maulid saudaraku,yg bermakna khusus,dan anda lebih tahu itu…contoh lainnya: imam malik pun berkata: jangan taklid padaku,jauzy…dst.

    abu tanisa say:
    jadi apakah dosa bagi seseorang yang tidak melaksanakan maulid nabi?? apa dasar yang menjadikannya dosa??

    Anda sudah tahu jawabannya saudaraku…

    apakah antum paham sejarah maulid nabi?? siapa yang membawakan??

    ana kurang faham sejarah maulid nabi,krn waktu itu ana belum lahir saudaraku,tapi ana hny sedikit membaca dan belajar saja, itupun masih teramat jauh dan kurang dlm belajar,..(telah byk di tulis di buku maupun di blog internet)

    semoga Allah menyatukan kita dalam keluhuran,persaudaraan sesama ummat rasulullah, semoga juga Allah memberikan taufik hidayah nya pada kita semua, keberkahan semoga tercurah untuk bangsa kita khusus nya umat rasulullah saw.

    wassalam…

  5. gondrong mengatakan:

    assalam…

    makasih saudaraku…

    semoga Allah menjadikan ana orang yg slalu bertawadhu…

    makna di atas…telah banyak ku baca sdr ku…s/d riwayat burdah nya imam baijuri dst…
    kan tlh ana katakan (telah byk di tulis di buku maupun di blog internet)”

    makna di atas pula ana masih banyak belajar,sbgmn para ulama dan imam yg terus dan terus belajar…
    krn mencari ilmu dr…s/d… bgm dgn antum?

    “Silakan merujuk ke artikel yang lain, agar antum bisa lebih dekat mengenal Islam, atau coba halaman lain seperti…”

    terima kasih banyak saudaraku…dan..
    benar saudaraku ana belum dekat dgn islam,jauh sekali…dr segi keilmuan spt: fiqih,usuluddin,tauhid,dll,dr segi keimanan dan ketaqwaan terasa kurang amat kurang,kurang sekali saudara ku…
    krn itu ana masih belajar dan belajar saudaraku…bgmn dgn antum? apakah telah merasa cukup saudaraku?

    semoga Allah memberkahi kita semua, shalawat dan salam tercurah pd baginda rasulullah…

    wassalam…

    • Abu Tanisha mengatakan:

      Ana hanyalah seorang mutholib (penuntut ilmu), masih banyak ilmu yang belum ana dapatkan, dan ana jauh dari sempurna, hafalan hanya sekedar untuk diri sendiri maksudnya tidak berusaha menghafal (hanya beberapa yang hafal) untuk sarana dakwah.

      jazakallahu khairan katsiran

      semoga ana, antum selalu dalam hidayah Allah subahanahu wata’ala

      Sungguh jauh berbeda antara seorang ‘Abid (ahli ibadah) dan seorang ‘Alim. Cukup sebagai dalil untuk menjelaskan hal itu hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dalam Jami’ at-Turmudzi yang diriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abu Umamah al Bahili semoga Allah meridlainya- beliau mengatakan: “Ada dua orang
      di masa Rasulullah, satunya ‘Abid dan satunya lagi ‘Alim, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam
      mengatakan:”Keutamaan seorang ‘Alim atas seorang’Abid adalah seperti keutamaanku di atas orang yang paling rendah derajatnya di antara kalian. Dan sesungguhnya Allah memberikan rahmat, para malaikat memohonkan ampun bahkan ikan-ikan di laut mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (H.R. at-Turmudzi)

      dalam Riwayat lain “Keutamaan seorang ‘Alim atas seorang’Abid adalah seperti bulan diantara bintang-bintang”

  6. gondrong mengatakan:

    Assalam…

    Semoga Allah senantiasa membuat hati kita ikhlas dalam menjalankan suatu amal kebajikan di dunia ini..

    terimakasih saudara ku, atas keterangan hadist nya,smg Allah membalas kebajikan antum,

    Hadist;
    ”Keutamaan seorang ‘Alim atas seorang’Abid adalah seperti keutamaanku di atas orang yang paling rendah derajatnya di antara kalian. Dan sesungguhnya Allah memberikan rahmat, para malaikat memohonkan ampun bahkan ikan-ikan di laut mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (H.R. at-Turmudzi)

    Alhamdulillah, Insya Allah keberkahan rahmat Allah ada pada keduanya (seorang alim dan abid)

    jika kita didalam melaksanakan kedua nya dengan penuh ikhlas dan ridho, sebab tanpa keiklasan hati apalah artinya kesemuanya itu….

    inti nya adalah ke ikhlasan dalam melaksanakan amal perbuatan ibadah kpd Allah swt,

    Allah Ta’aala berfirman:
    “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. (QS. Al-Hijr: 39-40)

    Allah Ta’aala berfirman:
    “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shaad: 82-83).

    Insya Allah semoga kita dan semua muslimin menjadi orang2 yang ikhlas dlm melaksanakan amal dan ibadah di dunia ini…
    semoga Allah memberkahi dalam setiap langkah hidup kita ..

    wassalam…

    • Abu Tanisha mengatakan:

      Betul akhi…Ikhlas adalah kunci utama dalam ibadah, namun jangan lupa, bahwa syarat diterimanya ibadah ada 2 yaitu: Ikhlas kepada Allah dan Ittiba’ (mencontoh nabi).

      Selayaknya manusia itu beribadah karena cinta kepada Allah, disertai dengan harapan dan takut.

  7. Abu Yazid mengatakan:

    Wahai saudaraku yang masih terperosok kedalam ajaran bid’ahnya maulid Nabi. Tundukkan lah hati kalian…
    Ingat… dan lihat… Siapakah sekelompok manusia di dunia ini yang paling cinta kepada Nabi, rela melakukan segalanya untuk Nabi, bahkan nyawanya pun rela dikorbankan untuk membela Nabi. tapi lihat…. Tidak ada satupun sahabat Nabi yang merayakan maulid seperti yang kita lihat selama ini. Dengan pembacaan-pembacaan kitab barzanji yang insya Alloh didalamnya banyak kalimat-kalimat syirik, seperti bertawasul kepada Nabi, padahal Nabi sudah wafat , dan ritual lainnya. Dari siapakah ini bersumber??? Dari kaum Syiah Fathimiyyah, Kelompok yang pernah mencuri hajar aswad dari ka’bah. Apakah anda mengetahui itu semua???
    Para Tabiin dan Tabitu Tabiin pun tidak ada satupun yang merayakannya. Maka apakah melakukan maulid Nabi adalah sebagai rasa cinta kepada Nabi?? Sungguh secara tidak langsung kita telah menuduh para shahabat tidak cinta kepada Nabi, karena tidak ada satupun dari mereka yang melakukannya.

    Kalau seandainya perbuatan itu BAIK, niscaya para shahabat telah mendahului kita dalam melakukannya….
    Lau kaana khoiron la sabaquuna ilaihi

    • panjul mengatakan:

      @abu yazid

      wahai saudaraku yang merasa paling benar dan paling tahu…tawadhu lah kalian…

      tak usah ente…merasa paling tahu…
      tak usak usah…merasa paling benar…

      apa ente lebih tahu dari muhaddist imam2,hujjatul,dan alhafid yg tsb di atas???

      yg buku terjemahannya juga ente pake???
      yang buku karangannya sering banget di pake para ustadz dan guru penentang maulid?,di pake buat referensi??

      (seperti pendapat para profesor di sanggah para anak Tk yg baru belajar…)

      sebutkan adakah penentang maulid yg lebih tahu dan ilmu nya melebihi para imam2,hujjatul muhaddist di atas?

      adakah?? (insya Allah semua orang muslim berilmu mgkn sdh tahu jwban nya saudaraku)

      oleh karenanya tak usak ente merasa paling tahu,paling benar…

      mengenai sahabat maulid?

      @ Maulid dan gembira atas lahirnya Rasul saw sudah ada sejak zaman sahabat radhiyallahu ‘anhum., sebagaimana syair syairnya Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra :

      “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah.., maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya kelahiranmu itu dan dalam tuntunan kemuliaan kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417).

      bagaimana menurut ente apa ini kalimat syirik?

      syair kalimat yg tinggi dan indah saudaraku…
      kecuali orang yg tak mengerti ttg tata bahasa syair arab tingkat tinggi yg mengatakan…dan kedangkalan atas pemahaman saudaraku….

  8. gondrong mengatakan:

    assalam…

    ya saudaraku…

    semoga Allah menjadikan kita orang yg mempunyai Akhlak yg baik dan mulia seperti Rasulullah..

    terima kasih saudaraku atas masukannya…

    tapi kita jangan lupa juga awal dari semua adalah akhlak yang baik…

    sebab awal firman Allah diatas krn tak mau sujud nya Iblis (sujud penghormatan) kpd nabi adam… krn ia mempunyai akhlak yg kurang baik ia menolak perintah Allah tsb, sedangkan malaikat yg lain sujud di karenakan mempunyai akhlak yg baik…

    Rasulullah SAW. bersabda:

    إنما بعثت لأتم صالح الاخلق

    ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).

    mengapa di sebut akhlak yg sholeh? bukan…? anda tahu maksud nya akhi…(dr riwayat mengapa Iblis ada disyurga,s/d perbincangan kita alim,abid,ikhlas dan ittiba)

    semoga Allah memberikan kita keluasan ilmu agama dan keluasan atas ke pemahamannya…

    wassalam…

  9. gondrong mengatakan:

    assalam…

    terimakasih banyak saudaraku…

    kalau ana perlu dan perlu sekali saudara ku…

    tapi untuk para imam,hujjatul muhaddist,sepertinya kita yg mesti belajar pada mereka saudaraku…
    bukan kebalikan nya…
    kita hanya para murid Tk saudaraku…beliau2 muhadist para professornya…kita lah yg menuntut ilmu dari mereka, bukan mereka belajar dari kita…

    terima kasih saudara ku atas info nya…

    Ya Allah berikanlah kami semua kejernihan hati atas kepamahaman agama Mu,dan jadikan kami orang2 yang berserah diri pada Mu…

    wassalam…

  10. Dorothea Stratton mengatakan:

    You’ve done it once again. Incredible article.

  11. Abdullah mengatakan:

    Astaghfirullah,
    Taqlid buta

  12. jangan bingung mengatakan:

    akhi ana cuma ingin sedikit memberi komentar sebenarnya semua ulama sepakat bahwa acara maulid nabi itu adalah bidah,cuma di anatara mereka berselisih dalam mendefinisikan nya,,ada yg nembagi menjadi bidah hasanah dst,dan ada yg tetap berpendirian semua bidah sesat,tetapi kalou kita mau cermati bahwasanya acara maulid itu tidak pernah di lakukan oleh rasululloh dan keluarganya bahkan hasan dan husain,fathimah dll jg tidak melaukanya,tentu mereka lebih mencintai rasululloh,tentu mereka mempunya rasa /berkeinginan bagaimana agar rasululloh tetap di cintai oleh umatnya dengan melakukan maulid,agar umat selalu mengigat beliau,tapi pada kenyataanya tidaklah demikinan,rasululloh lebih menyukai agar umatnya megikuti ajaran-ajaranya dengan baik,kesimpulan mudah dalam logika berpikir,kalau lah kita mengamalkan maulid ada ulama yg mengaharamkanya dan juga ada yg membolehkanya.sedangkan kalou kita tinggalkan tidak ada satupun ulama yang mengatakan berdosa,maka meninggalkan lebih baik dari pada mengerjakan sesuatu yang masih di perselisihkan ke shahihanya.

    • bhagaskara mengatakan:

      silahkan antum tampilkan ulama yg tak sepakat dgn para ulama di atas, (ttg maulid nabi) dan silahkan antum bandingkan keilmuannya,ketaqwaannya,kezuhudannya,ke alimannya,kefahaman atas ilmunya,dll…dengan para pendukung nya,..
      smg tercerahkan…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: