التمسك التوحيد,تصويب العقيدة,الستصل الشرك و بدعة

Tegak Tauhid, Lurus Aqidah, Berantas Syirik dan Bid'ah

Ciri-ciri dan hujjah Khawarij Gaya Baru

pada Oktober 20, 2009

Setelah berdialog dengan orang takfirin hampir 1 tahun yang lalu, dapat diambil kesimpulan mengenai hujjah khawarij masa kini

  1. Mereka berbicara berdasarkan Al-Qur’an, namun menggunakan pemahaman mereka sendiri, sehingga kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dengan ancaman-ancaman bahwa menafikkan sebagian bahkan seluruh ayat Al-Qur’an adalah Kafir. Maka dalam sebuah dialognya, setelah mereka membacakan ayat-ayat yang berhubungan dengan Kafirnya seseorang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, mereka memberikan pernyataan kepada kita dengan kata-kata seperti ini “Anda membenarkan dengan ayat ini?” atau “Apakah anda setuju dengan ayat ini?” atau dengan pernyataan-pernyataan semisalnya.
    Maka jangan terburu untuk membenarkan apa yang mereka pahami, tapi benarkan apa yang mereka baca, karena dalam menafsirkan sebuah nash kita mengikuti pemahaman Salafusholeh.
  2. Mereka memfokuskan kalimat “Berhukum kepada selain hukum Allah adalah Kafir” dengan masalah kepemimpinan dalam hal ini status kepemerintahan.
  3. Mereka menyodorkan kepada kita perkataan-perkataan ulama Salaf dan ulama Sunnah Kontemporer yang mengatakan bahwa “Berhukum kepada selain hukum Allah adalah Kafir”.
    Maka dalam hal ini kita membenarkan apa yang dikatakan oleh para ulama tersebut karena mereka menyampaikan QS Al-Maidah [44], tapi dalam masalah ini ada fatwa-fatwa ulama yang patut kita berkiblat kepada mereka dalam memutuskan suatu perkara, bukan dengan membenarkan apa yang mereka sodorkan dengan pemahaman mereka.
  4. Mereka selalu membatasi pertanyaan kita, membatasi dengan pernyataan bahwa “pertanyaan kita adalah pertanyaan masalah furu’ dimana hal tersebut tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam”. Dalam hal ini pertanyaan dalam hal cara dakwah mereka.
    Sebagai contoh bahwa salah satu pembatal keislaman adalah “Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk nabi shalallahu alaihi wassallam atau berkeyakinan bahwa ada hukum yang lebih baik dari hukum nabi shalallahu alaihi wassallam sebagaimana orang yang lebih mengutamakan hukum thogut diatas hukum Nabi shalallahu alaihi wassallam, maka dia telah kafir”, saat kita tanyakan masalah perintah-perintah Rasulullah mengenai rapatkan shof, isbal dan jenggot contohnya, yang mana mereka abaikan dalam mendakwahkan hal tersebut dikeluarganya atau lingkungannya, mereka menganggap dan menertawakan bahwa kita mencampurkan antara yang ushul dan yang furu’.
  5. Mereka tidak paham masalah-masalah furu’ yang berkaitan dengan lingkup dakwah mereka.
    Contoh, jika mereka giat dalam menegakkan hukum Allah di dalam hal kepemerintahan, maka ana tanyakan kepada mereka bagaimana pelaksanaan kepemerintahan Islam tersebut, mereka ternyata belum paham mengenai itu, kita tanyakan mengenai penetapan hukum Allah adalah pencuri itu dipotong tangannya, wanita/laki-laki yang berzina setelah memiliki suami atau istri dihukum dengan dirajam hingga mati, maka bagaimana memotong tangan pencuri tersebut, apa syarat-syaratnya? Bagaimana taubatnya wanita/laki-laki yang berzina tersebut, ternyata mereka tidak tahu.
  6. Ilmu melahirkan amalan, namun mereka berhujjah dengan kisah seseorang yang bertanya kepada Rasulullah “Ya Rasulullah, aku ingin pergi berjihad, apakah aku harus masuk Islam dulu atau berjihad dulu, maka Rasulullah berkata, masuklah Islam kemudian berjihad”, kemudian mereka menyatakan bahwa orang tersebut tidak punya amalan apapun sebelumnya tapi sudah disuruh berjihad.
  7. Mereka mentahdzir ulama, mereka menganggap ulama juga manusia, jadi jika salah adalah wajar, mereka menafikkan fatwa ulama yang tidak menjatuhkan vonis kafir kepada seseorang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.
  8. Mereka lebih mendengarkan fatwa mujahid atau orang-orang yang mereka anggap sebagai ulama yang menjatuhkan vonis kafir kepada orang-orang yang berhukum selain hukum Allah daripada ulama yang secara tegas menjelaskan tingkatan-tingkatan kekafiran lebih detail dan tidak langsung mengkafirkan orang begitu saja.
  9. Mereka tidak menganggap dirinya Khawarij, karena khawarij yang mereka pahami adalah khawarij di jaman pemerintahan ‘Ali bin Abu Tholib. Mereka mempertanyakan jika ciri-ciri khawarij itu memberontak kepada pemerintahan yang sah maka, pihak Mu’awiyah dikatakan khawarij juga, karena memberontak kepada pemerintahan ‘Ali yang sah.
  10. Mereka tidak menganggap bahwa pemerintahan Indonesia ini sah, karena pemerintahan Indonesia tidak berhukum kepada hukum Allah, masih menggunakan demokrasi. Dan mereka sah memberontak kepada pemerintahan Indonesia, sehingga kembali kepada poin 10, bahwa mereka tidak menganggap dirinya Khawarij.
  11. Mereka sangat berani dan berkeyakinan benar dalam berdialog, karena mereka bicara berdasarkan Al-Qur’an, namun mereka berpaham berdasarkan pemahaman mereka sendiri. Jika dalam bahasa jawa mereka itu saklek, kata dengan huruf ka fa ra mereka artikan kafir tanpa menelaah arti sesungguhnya.
  12. (tambahan sekitar 1 bulan yang lalu) Mereka menganggap salafy itu murji’ah, karena tidak mengkafirkan orang-orang yang berhukum dengan selain hukum Allah. –> bukunya telah terbit dengan judul “Salah Kaprah Salafy -pemahaman murji’ah” (kira-kira seperti itu, ana lupa, karena ana langsung berikan buku tersebut kepada salah satu ustadz untuk di bedah, dikarenakan fitnahnya yang sangat besar”

Hasil dialog dengan seseorang yang beraqidah khawarij, dimana dialog ini dimulai dari perginya mereka dari masjid tempat kami menjalankan sholat berjama’ah (mereka meninggalkan kami dalam keterasingan dalam penegakan tauhid dan sunnah)

Semoga Allah mengampuniku karena mengadakan acara ini.


11 responses to “Ciri-ciri dan hujjah Khawarij Gaya Baru

  1. Faris Salef mengatakan:

    Ciri ciri HADADI GAYA BARU :

    1. MERASA PALING BENAR PEMAHAMAN ILMUNYA

    2. MERASA MADZABNYA YANG PALING BENAR

    3. MENGAJAK PADA MADZAB SALAHI GAYA BARU -KHALAFI-

    4. TAHDZIR -KALAU GAK BISA DISEBUT TAKFIR- GOLONGAN ISLAM LAINNYA

    5. BERSEMBUNYI DI BALIK PEMERINTAH TAGHUT

    6. SELALU DISOKONG PEMERINTAH TOGHUT. DLL

    AFWAN AGAK KASAR. SEMOGA ALLOH MELINDUNGIMU DARI KAIDAH HADADIYAH

    • Abu Tanisha mengatakan:

      Kepada Faris Salef hudallahuta’ala,

      Afwan, sepertinya antum salah masuk, artikel ini masuk dalam kategori khawarij atau takfirin, pembahasan mengenai khawarij, syubhat dan bahayanya.

  2. Abid mengatakan:

    Alangkah indahnya, bila setiap diri / kelompok mengintropeksi diri sendiri terlebih dahulu. Mengherankan sekali umat Islam hanyut dalam fitnah perpecahan. Masing2 kelompok merasa dirinya yang paling benar. Kelompok A dituduh khawarij/Teroris (padahal konsekwensinya sangat besar) dan sebaliknya kelompok B dianggap Murjiah (konsekwensinya juga besar). Sungguh mudah umat Islam ini terfitnah dan diadu domba. Melihat kenyataan ini tentulah orang-orang kafir akan tepuk tangan menyaksikan fenomena ini. Cobalah mulai sekarang, jika terdapat perbedaan atau perselisihan mengenai satu perkara segera kembali Al Quran dan Sunnah. Bukan kembalinya kepada pemahaman ulama dari kelompok sendiri (na’uzubillah min zalik). Jika demikian tentu tidak mungkin bisa terselesaikan persoalannya. Coba kita renungkan firman Allah subhana wa ta’ala ini : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (surat An Nisa’ : 59)………

    Wallahu ‘alam
    Jazakumullaha khairan khasira

    • Abu Tanisha mengatakan:

      Memang terlihat begitu, orang kafir akan bertepuk tangan, namun bagaimana dengan kita sendiri? apakah harus mempedulikan mereka (orang kafir) yang bertepuk tangan?

      Jelas dalam sabda beliau صلى الله عليه وسلم, “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul
      Kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya (ummat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu Al-Jama’ah” HR. Abu Dawud (no.4597), Ahmad (IV / 102), al-Hakim (I / 128), ad-Darimi (II / 241). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dishahihkan oleh Syaikh Albani. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 203-204)

      jadi sudah sewajarnya memang umat Islam terpecah menjadi 73 golongan, hanya saja bagaimana kita bisa menjadi yang 1 dari 72 golongan yang masuk ke dalam neraka?

      jawabannya yaitu mengikuti dan memahami Al-Qur’an dan Assunnah (Hadist) berdasarkan pemahaman salafussholeh, agar kita yaitu kaum khalaf tidak tersesat.

      akhir kata:
      1. “Sebaik-baik manusia adalah genersiku; kemudian generasi sesudahnya; kemudian generasi sesudahnya lagi. Selanjutnya akan datang suatu kaum yang persaksiannya salah seorang di antara mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” Hadits mutawatir, di antaranya dengan lafal diatas yang diriwayatkan oleh Bukhari (no. 2509, 3451, dan 6065), Muslim (no. 1533), dan lainnya.
      2. orang kafir tetaplah kekafirannya, dan sudah jelas bagaimana sikap kita kepada mereka, namun yang dipertegas disini adalah “VONIS KAFIR” kapada sesama saudara muslim, dimana vonis tersebut akan menjadi halalnya darah seorang muslim, kehormatannya dan hartanya, padahal setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya.
      3. golongan mana yang seenaknya menjadikan halalnya darah seorang muslim, kehormatannya dan hartanya dengan vonis kafir? apakah sudah ada iqomatul hujjah (penegakkan hujjah terhadap muslim lain yang tersesat? kok bisa-bisanya langsung vonis kafir begitu?)

      silakan merujuk ke:
      http://media-ilmu.com/?p=18
      http://abumushlih.com/generasi-terbaik-dalam-sejarah.html/

  3. Abu Reyhan mengatakan:

    Terus gimana dong ama vonis khawarij terhadap sesama muslim…?
    Abu Tanisha menulis : orang kafir tetaplah kekafirannya, dan sudah jelas bagaimana sikap kita kepada mereka
    Jawab : Sama sekali engak jelas kelompok antum terhadp kaum kufar. Antum sesatkan semua semua kelompok yang berkonfrontasi dengan Yahudi, Amerika dan sekutunya (hamas, taliban dan di Indonesia MMI, Anshori Tauhid dll) wajar orang awam seperti saya bingung kemama arah dakwah kelompok anda…?

    • Abu Tanisha mengatakan:

      Vonis khawarij bisa kita lihat kesamaan pemahaman dengan khawarij yang dulu, silakan merujuk ke https://tegaktauhidlurusaqidah.wordpress.com/2009/10/23/download-kumpulan-artikel-aliran-sesat-khawarij/

      selanjutnya, jawab dulu apa yang mendasari bahwa suatu aliran atau kelompok itu sesat? jika kita sudah mengetahuinya maka akan jelas dimana yang menjadi poin-poin kesesatannya, coba kita pahami lagi sabda beliau صلى الله عليه وسلم ini:
      “Aku berlindung dengan Allah dari kata-kata manusia bahwa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya membaca al-Quran tetapi tidak melampaui kerongkong mereka yaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka menyudahi bacaan al-Quran sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan.” [HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]

      coba perhatikan hadist diatas, terlihat bagaimana bagusnya ibadah kaum yang disebutkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak sedikitpun kesesatannya, bahkan kita orang awam jika melihat orang-orang seperti itu pasti berfikir “itulah orang yang menjalankan Islam dengan benar!” namun semuanya itu batal seperti anak panah yang keluar dari busurnya, secepat itu hanya karena kata-kata “KAFIR” kepada umat Islam yang mana hujjah mereka belumlah sampai kepada umat Islam yang mereka kafirkan.

      Arah dakwah salafiyah adalah Penegakan Tauhid dan Pelurusan Aqidah

  4. Abu Reyhan mengatakan:

    Hujah yang mana yang belum sampai? Afwan apakah seorang yang misalnya bergelar KH, DR, LC antum katakan hujah belum tegak atas mereka? Tidak kah antum tahu bahwa menuntut ilmu itu adalah kewajiban seorang muslim? tidak kah antum pahami firman Alloh dalam surat Al-A’raf 172 :

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
    dari ayat ini jelas bahwa pelaku syirik akbar tidak di uzur akibat kebodohan dan sampainya hujjah. Apalagi seorang yang ana sebutkan diatas. Kawan, menghukumi seorang syirik itu pada zaman kita sekarang ini tidak otomatis kita berlakukan perintah syari halal akan darahnya. ini dikarenakan situasi tidak memungkinkan.Juga terhadap pemerintah, ana yang dhaif ini berpendapat tidak secara otomatis kita dapat mengangkat senjata. kok kelihatan anda alergi akan hal ini.. bahkan seorang yang menanyakan kenapa negara ini tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Alloh kelompok anda bilang orang tersebut ada pemikiran khawarij…? Orang yang tidak sependapat dengan pemerintah anda anggap punya pemikiran khawarij?
    WaAllohualam

    • Abu Tanisha mengatakan:

      Loh katanya antum orang awam? kok bisa jawab semuanya? bagus kalo begitu…

      PKS = Partai Keadilan Sosial, mereka menganut aqidah Ikhwanul Muslimin, jika antum telusuri ternyata Abu Bakar Baasyir dari Ikhwanul Muslimin juga. Ada seorang teman yang berada disana, ilmunya tinggi, sarjana, keinginannya kuat untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam (daulah Islamiyah), namun mereka menjadikan tujuannya dengan membentuk partai, mengikuti arus demokrasi, dengan hujjahnya bahwa jika Indonesia sudah dipimpin PKS kami akan membubarkan diri menjadi Islam yang satu.

      Perhatikan paragraf diatas, apakah orang-orang PKS itu orang-orang bodoh? jawabannya tentu tidak, mereka tidak bodoh tapi bodoh dalam hal memahami Islam, memahami Al-Qur’an, Assunnah.

      Tata sholatnya berangsur-angsur mendekati sunnah, fiqh-fiqhnyapun demikian, namun disaat lingkungan itu tidak mendukung, mereka melemah, mengikuti arus.

      Pertanyaannya:
      1. Sudahkah kita dekat dengan mereka, sabar dalam mendakwahkan, sabar terhadap penolakan dan mungkin hujjah mereka yang bertolak belakang?
      2. Sudahkah hujjah kita sampai kepada mereka mengenai haramnya demokrasi? Sementara ustadz-ustadz mereka yang berlebel Lc menjelaskan bahwa demokrasi itu ada 2 pendapat, namun pendapat yang membolehkannya sangat diperkuat, alhasil mereka para ikhwanul musliminpun akhirnya mengikuti apa kata ustadz mereka.

      Terakhir dan tidak ada balasan dari ana lagi:
      Ana bukanlah seorang ustadz, ana hanya penuntut ilmu, berusaha meniti jalan ahlusunnah wal jamaah, yaitu jalan pertengahan, menghormati Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, Ulama dalam masalah dien. Ana sebagai penuntut ilmu berusaha menjalankan adab-adab dalam bermajelis, tunduk terhadap ilmu, tabayyun, serta menegakkan hujjah sebelum memvonis.

      Memvonis bukan ikut-ikutan, namun secara pribadi bisa dilakukan penegakan hujjah terlebih dahulu, jika memang menyimpang, kita berlepas tangan, bukan hak kita untuk memvonis.

  5. Abu Reyhan mengatakan:

    Ya sudah klo antum gak mau lagi jawab diskusi kita akhiri saja..
    Syukron ya dah muat pendapat ana dan afwan klo ada kata-kata yang kurang berkenan

    • cah ndeso mengatakan:

      buat Abu Reyhan…arsyadanallohu jami’an…nambahin dikit akhi… ada ungkapan…TIDAK SEMUA YANG MENENTENG PEDANG ITU AHLI BERMAIN PEDANG…artinya tidak semua yang bergelar Lc,DR,Lullusan Madinah dll. itu faqih/berilmu seperti orang yang berilmu dengan gelar Lc…dan tidak mesti pula tidak ada syubhat dalam kepalanya…dan bukankah anda tahu bahwa ilmu jaman dulu lebih tersebar? dan bukankah hajjaj ats tsaqofi dan makmun lebih berilmu dari antum?…apakah anda enggan untuk mengambil teladan dari para salaf/ ataukah anda “merasa” mereka “kurang adil?” dalam menghukumi…atau…

  6. Abu Tanisha mengatakan:

    Perlu diingat:

    1. Orang yang mengaji, orang yang menuntut ilmu diin (agama), maka imannya akan bertambah, sejalan dengan itu tekad untuk mentauhidkan Allah semakin tinggi pula, kebencian kepada kaum kufar semakin kuat.

    2. Orang yang mengaji, orang yang menuntut ilmu diin (agama), maka imannya akan bertambah, sejalan dengan itu tekad untuk ittiba’ kepada Rasulullah semakin kuat, kebencian terhadap bid’ah semakin kuat pula.

    3. Orang yang mengaji, orang yang menuntut ilmu diin (agama), maka imannya akan bertambah, sejalan dengan itu harapan untuk syurga, rahmat serta dapat melihat wajah-Nya begitu kuat.

    4. Orang yang mengaji, orang yang menuntut ilmu diin (agama), maka imannya akan bertambah, sejalan dengan itu ketakutan untuk melakukan hal yang diharamkan Allah begitu kuat, seperti halnya syirik, kurofat, thogut, berhukum selain hukum Allah, bid’ah (QS Al-Ahzab: 36), dan segala perbuatan maksiat lainnya.

    Kesimpulan:
    1. Dengan ilmu iman semakin kuat, namun perlu diperhatikan syarat sahnya ibadah yaitu ikhlas dan ittiba’, ikhlas karena Allah semata dan mengikuti Rasulullah, karena hukum asal dari ibadah adalah dilarang, kecuali yang disyari’atkan.

    2. Selayaknya ibadah itu disertai dengan cinta, harap dan takut. Bentuk harap yaitu mengharap kebaikan dari Alloh, mengharap rahmat, dan surga-Nya, serta mengharap dapat melihat wajah-Nya. Bentuk takut, yaitu takut terhadap azab-Nya, takut terhadap murka-Nya, dan juga takut terhadap neraka-Nya. Tidak akan sempurna sebuah ibadah tanpa 2 unsur ini. Alloh berfirman ttg ciri2 orang beriman:
    (Yaitu) Orang-orang yang berdoa kepada Alloh dengan takut dan harap” QS. As-Sajdah:16.
    Sesungguhnya mereka adalah orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas.” Al-Anbiyaa’:90
    Bahkan Alloh secara tegas memerintahkan untuk takut terhadap azab-Nya:
    Katakanlah: Sesungguhnya aku takut akan azab yang besar (hari kiamat) jika kamu mendurhakai Tuhan-ku.” Al-An’am: 15
    Maka selayaknya burung, kepada adalah cinta, sayap kanan adalah harap, dan sayap kiri adalah takut, dan seyogyanya sayap kanan lebih kuat dari sayap kiri.

    سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنِتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

    [Maha suci Engkau, Ya Allah. Dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu], melainkan diampuni baginya dosa yang terjadi di majlis itu.” (HR. at-Tirmidzi)

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: