التمسك التوحيد,تصويب العقيدة,الستصل الشرك و بدعة

Penegakan Tauhid, Pelurusan Aqidah, Pemberantasan Syirik dan Bid'ah

Tragedi Pengagungan Kuburan Orang Shalih – Makam Keramat Habib Haddad Mbah Priok Dibela dengan Darah

Berawal dari sebuah status seorang teman:

Mari kita dukung “TOLAK PEMBONGKARAN MAKAM AL HABIB HASAN BIN MUHAMMAD AL HADDAD (MBAH PRIOK).. ” sebagai tanda kcintaan kepada keluarga Rasul .. sbgmana yg diperintahkan Quran.. Apalagi sbg pengormatan terhadap situs tokoh budaya & sejarah lokal haruslah dijaga

kemudian

TURUT BERDUKA CITA ATAS PARA PEMBELA MAKAM MBAH PRIOK YG SAAT INI SUDAH MENINGGAL 3 ORANG.. SMG ALLAH MENGHARGAI KECINTAAN MEREKA KEPADA KELUARGA RASUL

lalu dilanjutkan dengan

Makam Mbah Priok sudah dipindahkan sejak Tahun 1997?? isu atw fakta??

Baca entri selengkapnya »

2 Komentar »

Kalimat Syahadat dalam Sorotan

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ merupakan harga surga: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barang siapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.”[1] Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah kebaikan yang paling utama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.”[2]

Masih terngiang-ngiang di telinga kita apa yang dikatakan guru agama kita di bangku sekolah dasar ketika menerangkan mengenai makna kalimat tauhid ‘laa ilaha illallah’. Guru kita akan mengajarkan bahwa kalimat ‘laa ilaha illallah’ itu bermakna ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Namun apakah tafsiran kalimat yang mulia ini sudah benar? Sudahkah penafsiran ini sesuai dengan yang diinginkan al-Qur’an dan Al Hadits? Pertanyaan seperti ini seharusnya kita ajukan agar kita memiliki aqidah yang benar yang selaras dengan al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik umat ini (baca: salafush sholih).

Baca entri selengkapnya »

Tidak ada Komentar »

Fenomena Thiyarah dan Doa Berlindung dari Thiyarah

Kasus 1:

Setelah dihitung-hitung, dikonsultasikan kepada gurunya, akhirnya seorang bapak menemukan hari baik untuk pernikahan anaknya yang jatuh pada hari senin. Disebarkanlah undangan, sementara calon undangan (tamu –pen) setelah mendapat undangan sempat berpikir “kenapa nikahnya hari senin? Jadi harus ijin ke kantor nih…, jadi harus cuti nih…”.

Kasus 2:

Heru, penjual ikan, mengatakan, memang rencananya pedagang akan dipindah pada Senin (1/6). Hanya saja, sebelumnya pedagang sudah bersepakat tidak akan pindah pada hari yang ditentukan itu. Karena, kata dia, bagi kepercayaan sebagian pedagang, Senin adalah hari yang kurang tepat untuk pindah. “Jadi katanya, kalau pindah hari Senin itu kita bisa kena musibah. Dan jualan bisa-bisa nggak laku,” kata pria yang sudah berjualan di pasar itu sejak 1988.

Senada dikatakan Jumadi, penjual ayam, dan Pani, penjual daging. Kedua pedagang itu mengatakan, memang bagi sebagian pedagang jika ingin pindah ke lokasi baru harus menyesuaikan dengan hari baik. Karena, ujarnya, itu bisa berpengaruh dengan penjualan di tempat yang baru. “Tapi ada juga yang belum mau pindah karena memang menilai ada beberapa bagian pasar yang belum selesai,” kata Jumadi. [1]

Kasus 3:

“Setelah ini ibu adakan selamatan ya…, jika tidak akan adalagi yang celaka seperti ibu ini…” kata seorang sangkal putung [2] kepada seorang ibu yang berobat kepadanya. Kemudian suaminya teringat sesuatu mengenai patah tangan yang dialami keponakannya yang pernah tinggal dirumahnya beberapa tahun yang lalu karena terjatuh dari motor dan dilanjutkan setahun berikutnya dari anak tangga dirumah temannya, dan juga patah kaki yang pernah dialami menantunya karena terpeleset dari anak tangga dirumahnya. Sang suamipun menyampaikan apa yang dia ingat itu kepada istrinya, akhirnya mereka merasa ada kesialan yang menimpa keluarganya karena kejadian-kejadian sebelumnya tidak pernah mengadakan acara selamatan.

Baca entri selengkapnya »

Tidak ada Komentar »

Kenapa Bencana Selalu Menghampiri?

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

(QS. Ali Imran: 165)

Baca entri selengkapnya »

Tidak ada Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.