Kasus 1:
Setelah dihitung-hitung, dikonsultasikan kepada gurunya, akhirnya seorang bapak menemukan hari baik untuk pernikahan anaknya yang jatuh pada hari senin. Disebarkanlah undangan, sementara calon undangan (tamu –pen) setelah mendapat undangan sempat berpikir “kenapa nikahnya hari senin? Jadi harus ijin ke kantor nih…, jadi harus cuti nih…”.
Kasus 2:
Heru, penjual ikan, mengatakan, memang rencananya pedagang akan dipindah pada Senin (1/6). Hanya saja, sebelumnya pedagang sudah bersepakat tidak akan pindah pada hari yang ditentukan itu. Karena, kata dia, bagi kepercayaan sebagian pedagang, Senin adalah hari yang kurang tepat untuk pindah. “Jadi katanya, kalau pindah hari Senin itu kita bisa kena musibah. Dan jualan bisa-bisa nggak laku,” kata pria yang sudah berjualan di pasar itu sejak 1988.
Senada dikatakan Jumadi, penjual ayam, dan Pani, penjual daging. Kedua pedagang itu mengatakan, memang bagi sebagian pedagang jika ingin pindah ke lokasi baru harus menyesuaikan dengan hari baik. Karena, ujarnya, itu bisa berpengaruh dengan penjualan di tempat yang baru. “Tapi ada juga yang belum mau pindah karena memang menilai ada beberapa bagian pasar yang belum selesai,” kata Jumadi. [1]
Kasus 3:
“Setelah ini ibu adakan selamatan ya…, jika tidak akan adalagi yang celaka seperti ibu ini…” kata seorang sangkal putung [2] kepada seorang ibu yang berobat kepadanya. Kemudian suaminya teringat sesuatu mengenai patah tangan yang dialami keponakannya yang pernah tinggal dirumahnya beberapa tahun yang lalu karena terjatuh dari motor dan dilanjutkan setahun berikutnya dari anak tangga dirumah temannya, dan juga patah kaki yang pernah dialami menantunya karena terpeleset dari anak tangga dirumahnya. Sang suamipun menyampaikan apa yang dia ingat itu kepada istrinya, akhirnya mereka merasa ada kesialan yang menimpa keluarganya karena kejadian-kejadian sebelumnya tidak pernah mengadakan acara selamatan.
Baca entri selengkapnya »