
Redaksi Adz- Dzakhiirah Al Islamiyyah
Pro dan kontra dalam menanggapi tulisan adalah hal biasa. Untuk yang pro kami ucapkan jazakumullah khairan. Semoga Allah memberi kalian istiqomah di atas manhaj yang haq ini.
Adapun untuk yang kontra, yang mendapat nilai lebih adalah mereka yang memberikan tanggapan ilmiah. Hanya saja, sangat disayangkan sekali, nilai-nilai ilmiah itu entah mulai pudar atau memang belum tertanam pada diri mereka yang masih mengonsumsi majalah di atas. Nasihat kami, bacalah majalah-majalah ilmiah yang mengusung dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan majalah yang mengusung berita harian, ucapan fulan atau ‘allan, katanya ini atau itu tanpa sumber yang jelas, atau yang mengandung unsur provokasi atau adu domba antara sesama muslim. Kemudian mencari dukungan kepada ormas islam tertentu. Wallahul Musta’an.
Semoga tim sabili tidak lagi membuka lemahnya pemahaman mereka terhadap suatu tulisan dengan memahami judul diatas “Benar-Benar Bukan Jalanku” sebagai arti dari “Sabili” sebagaimana memahami judul edisi sebelumnya “Bukan Jalanku” sebagai arti dari “Sabili”. Jika belum punya kamus Arab-Indonesia silahkan memohon, semoga ada yang bantu. (Sabili No.14Th.XVII,hlm.43-44)
Bahasa kami “jorok”? bisa disebutkan contohnya? Justru label “gendeng”Wal ‘iyadzu billah. (Sabili No.14Th.XVII,hlm.36,38,43) (baca : gila) yang ditampilkan dan kalian anggap itu baik, dengan pengkultusan terhadap kuburan kalian ridha.
Tertera “Sabili bukan milik kelompok IM. Sabili juga tidak terkait dengan partai,” ternyata benar yang dikatakan ikhwan sebuah partai tertentu, “sabili dahulu beda dengan sekarang, semakin jauh dari “ulama”. Dan banyak dari mereka yang mundur dari berlangganan. Allahu yahdikum






